Para pembeli hemat di Indonesia meragukan kisah sukses ekonomi

ekonomi

Delima, seorang tenaga penjualan di kota terbesar keempat di Indonesia, kerap pingsan begitu tiba di rumah setelah seharian berdiri melayani pelanggan. Namun belakangan ini, Delima yang bekerja di sebuah toko kosmetik di salah satu pusat perbelanjaan mewah di Medan, merasa seperti “tidak punya kegiatan apa-apa”.

“Mal sekarang sepi sekali, dan ketika pelanggan datang ke toko, mereka tidak berniat membeli apa pun. Mereka hanya menggunakan semua tester gratis, terutama parfum, lalu pergi,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Pengalaman Delima mencerminkan “Rohana” dan “Rojali”, kata kunci terkini yang sedang marak di media sosial Indonesia.

“Rohana” dan “Rojali”, gabungan kata dalam bahasa Indonesia untuk “kelompok yang hanya bertanya” dan “kelompok yang jarang membeli”, muncul sebagai istilah slang internet populer untuk menggambarkan fenomena orang-orang yang mengunjungi mal hanya untuk sekadar melihat-lihat.

Meskipun sulit untuk menentukan angka pasti tentang orang yang bertransaksi di Indonesia, ada tanda-tanda bahwa banyak orang Indonesia yang berhemat karena nilai tukar rupiah tidak lagi sekuat dulu.

PT Unilever Indonesia, yang memproduksi produk sehari-hari mulai dari es krim hingga sampo dan pasta gigi, mengalami penurunan penjualan hampir 4,5 persen pada paruh pertama tahun 2025.

PT Matahari Department Store, yang mengoperasikan jaringan toko yang menjual pakaian, peralatan rumah tangga, dan produk kecantikan, mengalami penurunan lebih tajam yakni lebih dari 9 persen.

Tulus Abadi, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, mengatakan diskusi tentang “Rohana” dan “Rojali” mencerminkan perubahan nyata dalam keadaan materi masyarakat. “Transaksi di pusat perbelanjaan menurun drastis. Penjualan mobil dan sepeda motor pribadi juga menurun,” ujarnya kepada Al Jazeera.

“Hal ini menunjukkan bahwa konsumen kelas menengah sedang mengalami penurunan daya beli. Padahal, kelas menengahlah yang menjadi penggerak perekonomian.”

Di atas kertas, ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini berada dalam kondisi yang baik akhir-akhir ini. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh sebesar 5,12 persen secara tahunan (year-on-year) pada periode April-Juni, menurut Badan Pusat Statistik Indonesia, laju tercepat dalam dua tahun dan melampaui perkiraan para ekonom.

Meski demikian, ketidakpuasan ekonomi di kalangan masyarakat Indonesia tidak sulit ditemukan, dan paling terlihat jelas dalam protes mematikan yang melanda kepulauan itu pada akhir Agustus.

Ribuan warga Indonesia turun ke jalan di berbagai kota di seluruh negeri untuk memprotes pemotongan anggaran pendidikan, pekerjaan umum, dan perawatan kesehatan, serta penerapan tunjangan perumahan bulanan untuk anggota parlemen senilai sekitar $3.000 – hampir 10 kali lipat upah minimum bulanan Indonesia.

Dalam survei yang diterbitkan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura pada bulan Januari, kaum muda Indonesia mengungkapkan sikap yang jauh lebih pesimis terhadap ekonomi dan pemerintah dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam.

Padahal rata-rata 75 persen responden menyatakan optimisme tentang rencana ekonomi pemerintah di enam negara, hanya sekitar 58 persen pemuda Indonesia yang merasakan hal yang sama, menurut jajak pendapat tersebut.

Menurut statistik pemerintah, sekitar 16 persen dari lebih dari 44 juta penduduk Indonesia berusia 15-24 tahun tidak memiliki pekerjaan – dua kali lipat lebih banyak dari angka di negara tetangga, Thailand dan Vietnam.

Pejabat pemerintah telah meremehkan anggapan bahwa Rohana dan Rojali mencerminkan kondisi kehidupan nyata.

Berbicara pada konferensi pers di Jakarta bulan lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebiasaan belanja kini beralih ke daring, seraya menunjuk pada meningkatnya konsumsi rumah tangga di antara data positif lainnya.

“Narasi seputar Rojali dan Rohana dibesar-besarkan,” kata Airlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *