Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah untuk meyakinkan investor setelah Moody’s mengukuhkan peringkat kedaulatan Indonesia di Baa2 sambil menurunkan prospek menjadi negatif, sebuah perubahan yang menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi.
OJK menyatakan bahwa penegasan peringkat tersebut mencerminkan pertumbuhan Indonesia yang tangguh, kerangka makroekonomi yang disiplin, dan kinerja sektor keuangan yang stabil. Ketua sementara Dewan Komisaris OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa regulator akan terus memperkuat stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung ekspansi ekonomi nasional melalui kebijakan kehati-hatian, pasar keuangan yang lebih dalam, dan ketahanan sektor yang berkelanjutan sepanjang tahun 2026.
“Semua agenda ini diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, mendukung pembiayaan program prioritas pemerintah, dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar dan investor,” kata Friderica di Jakarta pada hari Jumat.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% pada tahun 2025, menggarisbawahi kemampuannya untuk mempertahankan momentum di tengah tekanan eksternal. OJK menambahkan bahwa penempatan Indonesia yang berkelanjutan oleh Moody’s di atas banyak negara sebanding dengan peringkat serupa menandakan kepercayaan pada kapasitas kebijakan negara, sementara koordinasi kebijakan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan akan diperkuat untuk menjaga stabilitas dan memperluas pembiayaan pembangunan jangka panjang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui penurunan prospek tersebut tetapi menegaskan bahwa pemerintah tetap konsisten dalam memperkuat fundamental ekonomi, dengan alasan bahwa lembaga pemeringkat terutama menilai kemauan dan kemampuan suatu negara untuk membayar kembali utang.
“Lembaga pemeringkat mengevaluasi apakah kita mampu membayar kembali utang kita dan apakah kita bersedia membayarnya. Kita memenuhi kedua syarat tersebut, jadi seharusnya tidak ada masalah. Saya yakin ini hanya masalah jangka pendek,” kata Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan pada hari Jumat.
Ia menambahkan bahwa ekonomi Indonesia telah memasuki lintasan positif, didukung oleh pertumbuhan yang lebih kuat pada kuartal keempat tahun 2025 sebesar 5,39%, naik dari 5,04% pada kuartal sebelumnya, dengan momentum yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2026.
“Selama mereka melihat fondasi ekonomi kita membaik, terutama dengan kinerja kuartal keempat yang solid, tidak ada alasan untuk takut bahwa kita tidak dapat atau tidak akan membayar utang kita,” katanya, menambahkan bahwa pertumbuhan kemungkinan akan semakin meningkat di masa mendatang.
Seperti yang telah diinformasikan sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga meredam dampak revisi prospek tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi makro. Ia menunjuk pada inflasi yang terkendali sebesar 2,92% dalam kisaran target bank sentral, kondisi rupiah yang stabil didukung oleh langkah-langkah kebijakan yang tegas, likuiditas perbankan yang memadai, cadangan modal yang kuat, dan risiko kredit yang rendah.
Namun, Moody’s menyebutkan beberapa faktor di balik prospek negatif tersebut:
- Berkurangnya prediktabilitas kebijakan, yang mencerminkan perubahan komunikasi dan arahan yang dapat melemahkan kepercayaan investor.
- Kekhawatiran muncul terkait program fiskal berskala besar, termasuk makanan bergizi gratis (MBG) dan perumahan bersubsidi, yang dapat memperlebar defisit anggaran di tengah pendapatan pajak yang relatif rendah.
- Ketidakpastian seputar tata kelola dan kewajiban kontingen Danantara meningkatkan risiko bahwa utang perusahaan milik negara pada akhirnya dapat menekan neraca pemerintah jika tidak dikelola dengan cermat.













Leave a Reply