Tiga Tewas, 20 Hilang Akibat Longsor Mengubur Rumah di Jawa Tengah

longsor

Cilacap. Longsor yang dipicu hujan deras melanda Desa Cibeunying di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis malam. Longsor ini menewaskan tiga orang dan menyebabkan 20 orang lainnya hilang hingga Jumat pagi, menurut keterangan petugas penanggulangan bencana.

Beberapa rumah tertimbun tanah dan puing-puing ketika lereng bukit runtuh setelah hujan deras selama berjam-jam. Operasi pencarian dan penyelamatan diluncurkan Jumat pagi, dengan tim tanggap darurat dibagi menjadi lima sektor yang menargetkan area-area yang kemungkinan besar terdapat korban.

“Upaya pencarian melibatkan alat berat, peralatan ekstraksi, dan peralatan manual untuk menjangkau daerah-daerah yang masih sulit dijangkau,” kata Priyo Prayudha Utama, koordinator operasi penyelamatan, dari lokasi bencana.

Kemajuan berjalan lambat karena kondisi tanah yang tidak stabil dan terbatasnya akses ke zona bencana. “Jalur akses sempit dan tanahnya masih lunak, sehingga alat berat hanya bisa bergerak perlahan,” kata Taryo, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Cilacap. Sebuah ekskavator yang lebih besar dijadwalkan tiba siang hari untuk mempercepat pembersihan puing-puing.

Keadaan darurat telah diumumkan di wilayah tersebut hingga akhir November, tergantung pada penilaian kondisi yang sedang berlangsung.

Korban Selamat Menggambarkan Detik-detik Mengerikan
Warga yang selamat dari bencana menggambarkan tanah longsor itu terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan.

Yayung, 62, mengatakan rumahnya ambruk setelah tertimbun reruntuhan tanah longsor. Ia baru saja pulang dari salat Isya ketika mendengar suara gemuruh yang memekakkan telinga. Kedua anaknya—berusia 28 dan 11 tahun—tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi berhasil menyelamatkan diri sebelum bangunan runtuh. Keduanya sedang menjalani perawatan di rumah sakit karena patah tulang. Istrinya, yang saat itu berada di teras, juga selamat, meskipun keluarganya kehilangan semua harta benda, termasuk empat sepeda motor.

Warga lain, Edi, mengenang bahwa tanah longsor terjadi “dalam hitungan detik.” Ia sedang minum kopi di rumah tetangga sekitar pukul 19.30 ketika mendengar suara gemuruh. Panik, ia berlari pulang untuk menyelamatkan anaknya yang sedang tidur.

“Kamar anak saya tidak terkena. Rumahnya hancur, tetapi anak-anak saya selamat,” ujarnya sambil menangis. Salah satu anaknya, seorang siswa kelas tiga, berada di rumah saat bencana terjadi, sementara yang lainnya berada di luar desa.

Penduduk desa melaporkan hanya gerimis ringan sesaat sebelum kejadian, tetapi hujan terus-menerus sejak sore telah membasahi lereng bukit — pemicu yang diketahui di lanskap perbukitan Cibeunying.

Operasi pencarian dan penyelamatan diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang waktu sementara pihak berwenang berpacu dengan waktu untuk menemukan orang-orang hilang yang masih tersisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *